November 15 2018
  • 1
, - ° - Humidity: %
Advertisement

Ukuran Aset “Intangible”

By admin - Thu Oct 04, 5:07 pm

 

Aset intangible bisa diukur walaupun “tidak tampak”. Aset intangible juga berpengaruh pada kesuksesan kita. Sekarang, pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah berada di peringkat ke-2 dunia, di bawah China. Tentu saja hal ini menjadi kabar baik bagi kita semua. Tumbuhnya perekonomian di India dan China yang membutuhkan batubara dan gas membuat perkembangan Indonesia juga bertambah makmur. Belum lagi kebutuhan dunia akan minyak kelapa sawit yang bisa terjawab oleh perkembangan pertanian sawit hingga ke pelosok-pelosok Negara kita.

Aset intangible

Hal ini bisa diibaratkan sebagai kereta yang ditarik oleh 11 kuda tangkas. Karena pertumbuhan ekonomi yang diharapkan bisa mencapai 6,1 persen dikabarkan bahkan bisa tumbuh lebih jauh lagi sampai menuju angka 7,2%. Sebagai efeknya, daya tarik investasi Indonesia juga bergerak naik. Catatan menunjukkan bahwa pasar domestic mulai berkurang. Golongan menengah berkembang dan daya beli kita tetap kuat walaupun beberapa Negara terkena krisis berat. Di Negara kita, konsumsi motor, mobil, es krim, handphone, dan kosmetik tidak ada habisnya. Efeknya, banyak sekali merek dunia memasarkan produknya secara besar-besaran di Negara kita. Hal ini bisa kita lihat dari berbagai macam billboard raksasa yang mulai berjajar di jalan-jalan protocol.

Aset intangible menunjukkan kepada kita bagaimana kita harus bersikap terhadap keadaan yang ada di Negara kita. Jika kita ibaratkan seperti perusahaan, perhitungan tahunan laba rugi dan neraca menunjukkan perkembangan positif. Dimana artinya, Indonesia sedang mengalami keuntungan. Tetapi walaupun di atas kertas memperoleh rapor positif, tetapi masih banyak yang mengeluhkan tidak adanya kemajuan di Indonesia. Bahkan masih banyak kemunduran di beberapa sector layanan public, seperti stasiun tidak terawatt, jalan rusak, jembatan rusak, kendaraan umum yang tidak nyaman dan pelayanan kesehatan yang mahal. Lebih jauh lagi, kita masih mengalami masalah mentalitas tentang korupsi, etika, tidak adanya sopan santun, lemah fairness, krisis kepercayaan, dan lain sebagainya.

Lalu kita bisa merasa bingung mengapa kenyataan di lapangan dan ukuran kemajuan sebuah Negara tidak berjalan seirama? Selain asset tangible yang sudah dipersepsikan maju dan berkembang, kita juga harus memperhatikan asset intangible seperti image, reputasi, sense of belonging, spirit dan juga knowhow. Karena asset intangible juga menjadi salah satu penentu kekuatan kita di masa depan. Walaupun untuk mengukur asset intangible tidak semudah dalam mengukur laporan laba rugi, tetapi bukan berarti kita harus mengacuhkannya.

Aset intangible ini mempunyai kaitan yang sangat erat dengan asset yang teraga. Pasti Anda menyetujui bahwa image dan reputasi bisa membuat banyak konsumen yang kembali. Katakanlah jika di dalam sebuah perusahaan tidak memperhitungkan apakah pelanggan happy atau tidak dengan produk dan pelayanan yang diberikan, maka jangan harap konsumen mau kembali lagi. Hal ini bisa dengan mudah diterapkan di dalam sebuah perusahaan untuk mempererat hubungan dengan para konsumen maupun dengan relasi bisnis yang lain.

Di jaman sekarang, manusia bukan hanya sebagai biaya saja karena manusia juga harus diperlakukan sebagai asset yang perlu dijaga dan ditumbuhkan. Pengembangan budaya positif, talent development, inisiatif menciptakan tempat kerja yang nyaman dan positif, dan juga membutuhkan sebuah komitmen. Di dalam sebuah perusahaan, kita tidak lagi sekedar melakukan efisiensi tetapi juga harus mengupayakan bagaimana manusia bisa membuat bisnis lebih efektif. Untuk itulah setiap orang harus menjadi pembaca data yang andal. Sehingga pada akhirnya mereka bisa mengeluarkan output yang canggih, cerdas dan membuat business impact. 

Follow Peluang Bisnis | Peluang Usaha | Informasi Bisnis Indonesia on Twitter, become a fan on Facebook. Stay updated via RSS