December 13 2018
  • 1
, - ° - Humidity: %
Advertisement

Strategi Investasi Reksadana Saham

By admin - Fri Jun 15, 5:26 pm

Investasi reksadana saham tentu harus mempunyai strategi yang tepat. Investasi reksadana saham seringkali disebut sebagai investasi yang mempunyai resiko paling tinggi tetapi juga kemungkinan mempunyai retirn yang lain pula dibandingkan dengan jenis investasi yang lain. Lalu apa yang harus kita lakukan ketika berinvestasi dengan reksadana saham? Apakah kita hanya harus pasrah saja kepada manajer investasi (buy and hold) ataukah kita juga harus ikut aktif dalam memantau perkembangan pasar dan ikut menginstruksikan kapan kita ingin masuk atau keluar kepada manajer investasi (swing trade)?

Investasi reksadana saham

Untuk konsep buy and hold biasanya didengungkan oleh para agen pemasaran reksadana. Hal ini mempunyai alasan untuk jangka waktu yang panjang saham merupakan underlying dari reksadana saham akan cenderung naik. Jadi logikanya reksadana saham juga akan naik. Alasan yang lain adalah karena investor reksadana saham bisa dianggap kurang melek ilmu dibandingkan dengan manajer investasi. Sehingga seolah-olah keputusan kita sebagai investor tidak bisa dibenarkan. Untuk pengathuan bahwa saham dalam jangka panjang pasti bullish itu memang benar, tetapi hal itu tidak berlaku pada saham jangka menengah.

Investasi reksadana saham tentu sangat berkaitan erat dengan IHSG. IHSG mempunyai beberapa gelombang (wave) yang naik turun. Jadi, untuk masuk ke dalam investasi reksadana saham yang aman dan simple adalah dengan cara memasukkan reksadana saham pada saat IHSG sedang bullish dan keluar saat sedang bearish. Istilah keren untuk menyebut strategi ini adalah riding the wave. Caranya adalah dengan menjadi swing trader. Cara ini bisa dilakukan dnegan mudah dan dengan menggunakan tools sederhana yang tersedia gratis di internet.

Lalu kapan Anda sebagai investor akan mendapat keuntungan? Tentu saja apabila nilai NAB/UP mengalami kenaikan dibandingkan dengan nilai NAB/UP saat pembelian. Misalnya pada awal tahun 2012, manajer investasi Y menerbitkan 1.000.000 lembar reksadana dengan harga Rp 1000. Dan harga ini bisa dianggap sebagai NAB/UP awal. kemudian pada akhir tahun 2011 ternyata nilai investasi meningkat menjadi Rp 1.6 milyar karena kenaikan harga saham yang menjadi portofolio manajer investasi Y. serta pembayaran dividend an juga bunga obligasi. Jadi, NAB/UP yang baru adalah Rp 1,6 milyar : 1.000.000 = Rp 1.600.

Investasi reksadana saham ibaratnya adalah parsel yang berisi lebih dari satu intstrumen, dan saham adalah salah satu isinya. Jumlah instrument yang disediakan berbeda-beda dan disesuaikan dengan ketentuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Jadi, jika salah satu perusahaan yang diinvestasikan reksadana ini mengalami kerugian, maka masih bisa ditutup oleh instrument yang lain. Cara ini yang dikenal dengan diversifikasi. Jadi, keuntungan dengan adanya diversifikasi ini adalah meminimalkan kerugian.

Hasil investasi riil satu tahun dihitung dengan memasukkan maksimal biaya-biaya (pembelian dan penjualan) dengan formula = {[(1 – biaya penjualan) x NAB/Unit akhir] dibagi [(1 + Biaya Pembelian) x NAB/Unit awal] – 1} x 100%. Faktor jangka panjang waktu investasi juga perlu diperhatikan. Karena semakin panjang jangka waktunya, maka makin kecil biaya yang akan dikenakan kepada investor. Perhatikan pula adanya pembayaran dividen pada Reksa Dana Dana Lestari. Juga perhatikan NAB/Unit dari Reksa Dana Pasar Uang yang selalu Rp1.000 dikarenakan adanya pembagian dividen secara harian. Reksa Dana Pasar Uang juga memiliki keunikan lain, yakni tidak dibebankan biaya pembelian dan penjualan.

Follow Peluang Bisnis | Peluang Usaha | Informasi Bisnis Indonesia on Twitter, become a fan on Facebook. Stay updated via RSS