November 21 2018
  • 1
, - ° - Humidity: %
Advertisement

Strategi Cerdas Manajemen Keuangan Keluarga

By admin - Thu Jul 19, 10:57 am

 

Manajemen keuangan keluarga yang baik harusnya seimbang antara besarnya pendapatan dengan besarnya pengeluaran. Manajemen keuangan keluarga harus dihindarkan dari “besar pasak daripada tiang”. Pepatah tersebut menggambarkan betapa masalah keuangan keluarga adalah masalah klasik yang harus dihadapi oleh masyarakat dari jaman dahulu sampai sekarang. Sebenarnya, mengelola keuangan adalah mengelola berapa jumlah uang yang diterima dan juga berapa jumlah uang yang dikeluarkan. Walaupun banyak yang bilang jika uang bukanlah segalanya, tetapi tetap saja jika tidak bisa mengelola uang dengan baik, maka akan membuat kita kelimpungan.

Manajemen keuangan keluarga

Di dalam keluarga juga mengelola keuangan akan menjadi salah satu factor penting untuk memelihara keharmonisan anggota keluarga. Masalah keuangan juga beragam yang menimpa keluarga di masyarakat. Jika di masyarakat kelas bawah, kekurangan adalah factor utamanya. Sedangkan jika di kalangan atas, maka ketidak-terbukaan adalah penyebab utamanya. Tetapi yang perlu disadari adalah bahwa kekurangan atau kelebihan jumlah uang adalah relative, tergantung bagaimana memanfaatkan keuangan di keluarga Anda. Karena seringkali masalah yang timbul adalah pada kebiasaan mengelola keuangan itu sendiri.

Manajemen keuangan keluarga bukan berdasarkan pada jumlah pemasukan yang diterima. Gaji yang besar tidak akan bisa menjamin kehidupan yang lebih tenang tanpa pengelolaan keuangan yang baik dan benar. Untuk mengatasi masalah keuangan ini haruslah ada rasa syukur, keterbukaan dan kebersamaan keluarga. Jangan selalu terbiasa untuk mengeluarkan uang sama dengan gaji yang diterima. Misalnya jika gaji naik, jumlah belanja juga tidak boleh ikut naik. Anda harus tetap mengerem keinginan-keinginan yang berlebihan dan cenderung akan merugikan keuangan keluarga Anda.

Berikut ini adalah kunci yang harus diterapkan dalam mengelola keuangan keluarga. Kunci pertama adalah dengan menetapkan tujuan keuangan. Anda dan suami harus menyusun tujuan spesifik, realistis, terukur dan dalam kurun waktu tertentu. Karena tujuan ini akan membantu Anda dan suami untuk lebih focus dalam merancang keuangan Anda sekeluarga. Misalnya Anda dan suami ingin membeli rumah sendiri. Kemudian Anda berdua harus menetapkan berapa besarnya tabungan yang harus Anda sisihkan setiap bulannya untuk bisa membayar uang muka dan cicilan rumah.

Manajemen keuangan keluarga yang kedua adalah dengan membuat anggaran keuangan. Anda harus membuat anggaran penerimaan dan pengeluaran pokok. Hal ini untuk membantu Anda dan keluarga lebih berpikir realistis dan obyektif agar tidak mengeluarkan pengeluaran yang berlebihan. Di sini Anda tidak perlu terlalu ideal, hanya pastikan saja jumlah pengeluarannya realistis. Dan perlu ditegaskan kalau Anda dan pasangan harus patuh pada apa yang sudah Anda buat. Untuk anggaran pengeluaran bisa dianggarkan dari penerimaan uang tetap (fixed cash inflow). Untuk anggaran pengeluaran bisa disusun dengan mmebuat skala prioritas, misalnya untuk menabung, membayar cicilan rumah, membayar kendaraan, dan lain sebagainya. Pastikan hutang sebagai pos pertama pengeluaran. Karena jika telat membayar akan beresiko terkena bunga dan denda. Pos kedua adalah belanja kebutuhan pokok dan kebutuhan sekunder. Pos ini bersifat pasti dan perubahannya tidak tinggi. Pos terakhir adalah menabung. Menabung bisa dianggarkan dengan menyisihkan beberapa persen dari kebutuhan sekunder yang tidak selalu ada setiap bulan. Pastikan Anda mempunyau rekening terpisah antara tabungan dan kebutuhan sehari-hari.

Kunci ketiga adalah dengan membedakan kebutuhan dan keinginan. Setelah Anda membuag anggaran, jangan langsung melakukan eksekusi. Artinya, jangan langsung membelanjakan semua daftar yang ada. Pertimbangkan lagi mana yang kebutuhan dan mana yang keinginan.

Follow Peluang Bisnis | Peluang Usaha | Informasi Bisnis Indonesia on Twitter, become a fan on Facebook. Stay updated via RSS