November 13 2018
  • 1
, - ° - Humidity: %
Advertisement

Semakin mahalnya biaya bertani

By admin - Tue Dec 27, 3:25 pm

  • Comments Off on Semakin mahalnya biaya bertani
  • 1295 views
  • Email
  • Print

Semakin mahalnya biaya bertani di Indonesia seakan mencekik petani kecil. Semakin mahalnya biaya bertani juga membuat masyarakat kecil merasa kurang diperhatikan oleh Pemerintah. Musim tanam setiap tahun sangat berarti karena menandai petani untuk mulai mengolah sawahnya. Benih padi, pupuk yang murah, dan air irigasi berkecukupan merupakan modal utama budidaya tanam padi. Benih dan pupuk harus ditebus dengan uang, sedangkan air irigasi adalah anugerah alam. Iklim ekstrem ternyata juga menyebabkan biaya tanam padi semakin mahal. Misalnya, air melimpah kalau tidak mengalir ke sawah akhirnya perlu tambahan biaya supaya mengaliri sawah.

Ada kalanya sawah yang beruntung mendapatkan kualitas dan dukungan cuaca yang bagus, tetapi ada kalanya pula para petani kurang beruntung. Seperti misalnya, bendungan karet yang biasanya ditempatkan di dekat sawah jebol, dan permasalahan lain. Dalam bekerja, laki-laki dan perempuan bekerja bersama tetapi megerjakan tugas masing-masing yang berbeda. Perempuan buruh menanam benih padi, sedangkan laki-laki buruh membantu menarik tumpukan benih padi ke tengah sawah dengan karung. Genangan air di sawah hanya 10 sentimeter akan menyebabkan benih tumbuh kurang maksimal. Karena semestinya 20-30 sentimeter agar benih dijamin tumbuh dan aman dari hama tikus.

Semakin mahalnya biaya bertani juga mempengaruhi pasokan ke lumbung padi. Pada umumnya, sekali musim, gabah yang dipasok ke lumbung padi bisa mencapai lebih dari 100.000 ton gabah. Di Indonesia, pertanian biasanya mengandalkan pengairan dari sungai terdekat atau irigasi waduk setempat. Jika ke dua sumber air ini kering, maka akan sangat berpengaruh pada hasil panen dan kualitas gabah. Untuk musim kali ini yang tergolong lebih ekstrem, modal tanam padi sekitar Rp 1,8 juta. Biaya ini masih di luar iuran menyedot air melalui genset sebesar Rp 1 juta.

Untuk membantu kelangsungan hidup petani dari Negara-Negara berkembang, seperti Indonesia, Pemerintah sudah menerapkan kebijakan. Negara-Negara maju seharusnya mengurangi subsidi sektor pertanian. Subsidi atas komoditi ekspor negara maju bahkan harus dihapuskan, karena menciptakan persaingan tidak sehat yang membanjiri pasar domestik negara berkembang. Disiplin aturan WTO juga perlu diperkuat untuk mengurangi distorsi hambatan-hambatan sanitary dan phitosanitary di negara maju yang menghambat ekspor Negara berkembang.

Semakin mahalnya biaya bertani tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di beberapa Negara sedang berkembang lainnya. Menteri Perdagangan Indonesia membicarakan hal tersebut di atas dalam pertemuan tingkat menteri kelompok G-33 di Jenewa, Swiss. G-33 merupakan kelompok negara berkembang yang memperjuangkan perlindungan atas sektor pertanian dalam negeri, melalui skema special product (SP) dan special safeguard mechanism (SSM). Tujuannya agar terdapat ruang kebijakan secukupnya bagi pemerintah negara berkembang dalam melindungi kelangsungan hidup petani dan mata pencaharian di bidang pertanian dalam rangka ketahanan pangan serta pembangunan pedesaan.

Indonesia menjadi Ketua G-33 sejak kelompok tersebut dibentuk tahun 2003. Perjuangan G-33 tidak akan berhenti sampai perundingan Doha development Agenda (DDA) untuk mengesahkan SP dan SSM sebagai instrumen pelindung yang efektif bagi negara berkembang dalam mengejar peningkatan produksi dan produktivitas pertanian. Namun demikian, perhatian kita juga harus diarahkan secara seimbang pada upaya penerapan pola konsumsi yang bertanggung jawab. Berbanding terbalik dengan usaha meningkatkan persaingan produk pertanian di kancah Internasional, ternyata ada pula permasalahan pertanian yang masih dialami dalam Negeri, yaitu subsidi yang terlalu kecil. Subsidi Indonesia sangat kecil kalau dibanding subsidi di negara maju, yang biasanya memberikan subsidi luar biasa besar. Dalam konteks global, besarnya subsidi yang diberikan negara-negara maju tersebut membuat sulitnya menembus pasar ekspor pertanian di negara-negara itu. Sementara saat ini di berbagai negara, proteksionisme menjadi respons dalam menghadapi krisis keuangan yang terjadi meski banyak negara menyampaikan bahwa mereka harus menghindari proteksionisme.

Follow Peluang Bisnis | Peluang Usaha | Informasi Bisnis Indonesia on Twitter, become a fan on Facebook. Stay updated via RSS

  • Comments Off on Semakin mahalnya biaya bertani