November 21 2018
  • 1
, - ° - Humidity: %
Advertisement

Perbedaan Soft Selling dan Hard Selling

By admin - Tue May 22, 5:17 pm

Soft selling dan hard selling juga tidak akan lepas dari kelangsungan usaha Anda. Soft selling dan hard selling merupakan dua strategi pemasaran yang berbeda dan harus diterapkan dengan benar agar hasilnya pun maksimal. Kedua strategi marketing ini mempunyai perbedaan yang mencolok, baik digunakan untuk bisnis online maupun offline. Perbedaan ini bisa dilihat dari cara menyampaikan produk kepada calon konsumen dengan style dan cirri khas mereka masing-masing. Ada yang bersifat sporadis, dan ada pula yang bersifat kalem tetapi mematikan. Hard selling sendiri berarti menjual secara keras atau lebih mudahnya langsung ke pokok permasalahan yakni langsung ke penawaran. Sedangkan soft selling sendiri menjual secara halus atau secara tidak langsung.

Soft selling dan hard selling

Pertama kita akan membalas hard selling lebih lanjut. Dalam pemasaran online, kita bisa menjumpai hard selling ini di berbagai iklan di internet, seperti misalnya di beberapa website iklan gratis maupun di hasil pencarian search engine pada suatu keyword. Ciri-ciri pemasaran ini adalah kata-kata yang digunakan biasanya bombastis, langsung ke inti permasalahan dan sifatnya yang cenderung provokatif. Dalam bisnis online, hard selling juga sering diterapkan dalam sales letter. Hard selling ini bisa dimanfaatkan oleh siapa saja baik untuk seseorang yang sudah sangat professional maupun yang masih amatir. Tetapi yang membedakan pastinya hasil akhirnya. Karena tentunya yang mahir dan yang amatir mempunyai tingkat pemahaman yang berbeda terhadap pasar dan pengalaman dalam dunia marketing.

Soft selling dan hard selling sama-sama merupakan strategi marketing yang sangat jitu karena keduanya sama-sama berjualan tetapi seolah tidak terlihat berjualan. Selanjutnya kita akan membahas lebih lanjut tentang soft selling. Soft selling menggunakan cara yang lebih lembut dan jauh dari kata-kata provokatif. Keunggulan menggunakan strategi soft selling sendiri adalah menumbuhkan kepercayaan (branding) konsumen terhadap sang penjual produk tersebut. Kemudian efeknya untuk membangun penjualan yang awet dan jangka panjang.

Ciri-ciri soft selling adalah dilakukan secara halus, jauh dari provokasi dan banyaknya sifat edukasi dalam iklan yang disampaikan. Terkadang dengan mengungkapkan latar belakang terlebih dahulu akan manfaat produk yang akan dibeli dan menyebutkan keunggulan-keunggulan disbanding dengan produk lain yang sejenis. Strategi pemasaran ini bisa dilihat di beberapa website yang melakukan review suatu produk, artikel-artikel, blog, bahkan facebook. Tetapi terkadang dijumpai kombinasi soft selling dan hard selling. Yaitu dari soft selling dalam kurun waktu tertentu kemudian diselingi dengan hard selling. Semuanya dengan memperhatikan kondisi dan branding yang kita bawa di situs social tersebut.

Soft selling dan hard selling pun bisa dikombinasikan. Tentu saja ini memunculkan hasil yang terbaik dan lebih memuaskan. Dengan memadukan strategi keuanya, selain kita mempunyai situs penjualan yang kontennya langsung berupa penjualan (hard selling), yang tak kalah penting adalah edukasi terhadap produk yang kita pasarkan (soft selling).

Dengan begitu, calon konsumen tidak hanya mengenal kita dari satu sisi saja, melainkan dari sisi yang lain juga. Yakni sebagai partner setia yang tidak hanya menjual produk saja, tetapi juga memberikan sesuatu yang banyak memberi manfaat bagi konsumen walau dengan tanpa membelinya. Dengan begini, akan tercipta hubungan yang langgeng dan secara tidak langsung akan tumbuh dengan sendirinya. Dan inilah yang kemudian memunculkan branding.

Follow Peluang Bisnis | Peluang Usaha | Informasi Bisnis Indonesia on Twitter, become a fan on Facebook. Stay updated via RSS