December 12 2018
  • 1
, - ° - Humidity: %
Advertisement

Perbedaan Mendasar Antara Bank Syariah dan Bank Konvensional

By admin - Wed Jun 06, 4:42 pm

Bank syariah dan bank konvensional seakan semakin berloma untuk mendapatkan nasabah paling banyak. Bank syariah dan bank konvensional bisa juga sekarang menjadi satu kesatuan. Karena banyak sekali bank konvensional yang mulai mendirikan bank syariah. Lalu apa sebenarnya perbedaan antara keduanya? Apakah keduanya sama saja? Apakah hasil margin keuntungannya sama saja dengan bunga? Benarkah bagi hasil hanyalah nama lain dari system bunga?

Bank syariah dan bank konvensional

Berikut adalah beberapa perbedaan yang bisa Anda jadikan pembeda dalam memilih dan menambah pengetahuan Anda terhadap konsep kedua bank ini. Pertama, bank syariah berdasarkan bagi hasil dan margin keuntungan, sedangkan bank biasa memakai perangkat bunga. Kedua, pada bank syariah hubungan dengan bank syariah berbentuk kemitraan. Sedangkan pada bank biasa hubungan itu berbentuk debitur – kreditur. Ketiga, bank syariah melakukan investasi yang halal saja, sedangkan bank biasa, bisa halal, syubhat dan haram. Keempat, bank syariah berorientasi keuntungan duniawi dan ukhrawi, yakni sebagai pengamalan syariah. Sedangkan orientasi bank biasa semata duniawi. Kelima, bank syariah tidak melakukan spekulasi mata uang asing dalam operasionalnya untuk meraup keuntungan, sedangkan biasa, banyak yang masih melakaukan. Bank syariah tidak memandang uang sebagai komoditi, sedangkan bank syariah tidak memandang uang sebagai komoditi, sedangkan bank biasa cenderung berpandangan demikian.

Bank syariah dan bank konvensional juga mempunyai perbedaan pada produk yang ditawarkannya. Dalam bank syariah ada tiga produk pembiayaan yang dipraktekkan. Pertama, bagi hasil, kedua, jual beli dan ketiga, ijarah (leasing) dan jasa. Bagi hasil, terdiri dari mudharabah dan musyarakah. Jual beli, terdiri dari produk ba’i murabahah, ba’i istitsna’ dan ba’i salam. Jasa, terdiri dari wakalah, kafalah hiwalah. Sedangkan ijarah terdiri dari ba’i at-takjiri dan al-ijarah munthiyah bit tamlik. Jadi, dalam perbankan syariah, bagi hasil hanyalah salah satu produk pembiayaan perbankan syariah. Saat ini bank syariah di Indonesia, masih dominan menerapkan produk jual beli, khususnya, jual beli murabahah dan istisna’, kecuali bank Muamalat. Bank ini secara bertahap berusaha menerapkan konsep bagi hasil dalam pembiayaan.

Karena banyaknya prosuk bank syariah maka sistem bagi hasil, sebagi ciri khas utama bank syariah tidak diterapkan secara menyeluruh dalam operasi bank muamalah, karena memang, bagi hasil (mudharabah dan musyarakah) hanyalah salah satu dari konsep fikih muamalah dan merupakan salah saru sistem bank syariah. Namun harus dicatat, meskipun bagi hasil belum diterapkan secara dominan, tetapi praktek bunga sudah bisa dihindarkan secara total, khususnya bank Muamalat dan bank Syariah Mandiri.

Bank syariah dan bank konvensional juga mempunyai perbedaan pada suku bunga yang dianggap sama saja dengan bagi hasil. Perbedaan itu antara lain:

  1. Penentuan bunga ditetapkan sejak awal tanpa pedoman pada untung rugi. Sehingga besarnya bunga yang harus dibayar sudah diketahui sejak awal. Sedangkan system bagi hasil, penentuan jumlah besarnya tidak ditetapkan sejak awal. Karena pengambilan bagi hasil didasarkan untung rugi dengan pola nisbah (rasio) bagi hasil. Maka jumlah bagi hasil baru diketahui setelah berusaha atau sesudah ada untungnya.
  2. Besarnya persentase bunga dan besarnya nilai rupiah ditentukan berdasarkan jumlah uang yang dipinjamkan.
  3. Dalam system bunga, jika terjadi kerugian, maka kerugian itu hanya ditanggung si peminjam (debitur) saja berdasarkan pembayaran bunga tetap seperti yang dijanjikan. Sedangkan pada system bagi hasil, jika terjadi kerugian, maka itu ditanggung bersama oleh pemilik modal dan peminjam.

Follow Peluang Bisnis | Peluang Usaha | Informasi Bisnis Indonesia on Twitter, become a fan on Facebook. Stay updated via RSS