September 22 2014
  • 1
Jakarta, ID - 30 °CPartly Cloudy - Humidity: 58%
Advertisement

Pentingnya Kemampuan Berhitung “Plus”

By admin - Thu Oct 11, 5:04 pm

Kemampuan berhitung “plus” ternyata sangat bagus jika diterapkan pada bisnis yang Anda jalankan. Kemampuan berhitung “plus” pada kenyataannya sangat berhubungan dengan pendapatan bisnis. Setiap orang mulai dari anak-anak sampai orang dewasa menggunakan penghitungan dalam kegiatan sehari-harinya. Kalkulasi ini bisa juga ditunjang dengan alat bantu hitung, seperti kalkulator. Jika kita lihat, memang masih banyak para pelaku usaha yang masih salah menghitung bisnisnya. Misalnya ketika melihat banyak perusahaan yang dulunya “make money”, setelah beberapa tahun malah macet dan tidak langgeng? Lalu ada pertanyaan yang muncul, bukankah seharusnya sudah ada pakem untuk menjaga laba-rugi perusahaan? Jadi seharusnya para pelaku usaha hanya perlu untuk mengikuti rumus dan membaca bottomline-nya bukan?

Kemampuan berhitung “plus”

Pada kenyataannya tidak sesederhana itu. Karena masih banyak kesalahan-kesalahan hitung yang luar yang membuat kita semua terkejut. Contoh konkritnya adalah antara subsidi BBM dan BBM tidak bersubsidi perbedaannya ternyata sangat signifikan. Dari situ bisa kita simpulkan bahwa kelanggengan dan kesuksesan keadaan keuangan suatu perusahaan, lembaga atau Negara tidak bisa hanya diukur menggunakan rumus tambah-kurang lagi. Karena ada setumpuk faktor yang harus diperhitungkan juga di samping dengan adanya informasi yang suah tersedia di sana-sini. Hal inilah yang kemudian membuat para pelaku usaha mau tidak mau harus tetap mempertimbangkan beberapa faktor yang tidak bisa diprediksi, seperti dampak social dan emosional, passion, hubungan baik, prospek masa depan, dan rumor.

Kemampuan berhitung “plus” akan membantu kita untuk menghadapi realitas yang ada. Karena dalam hal bisnis, perhitungan kita harus matang dan tidak hanya sebatas “di atas kertas” untuk menjalankan sebuah usaha dengan kekuatan penuh dan nafas panjang untuk menghadapi perubahan, kompetisi dan juga tuntutan pelanggan.

Mari kita ambil contoh di sebuah perusahaan trading yang tadinya hanya menganggap bahwa yang paling penting di perusahaan tersebut adalah uang. Namun kemudian ditemukan bahwa business acumen pada para eksekutiflah yang justru harus ditingkatkan. Gejalanya adalah kurangnya inisiatif pada eksekutif, tidak berani menyambut resiko, tidak ada kreativitas dalam melihat peluang dan solusi masalah yang hanya itu-itu saja. Bahkan, bagaimana bisa seorang eksekutif di bidang keuangan tidak mempunyai business acumen yang kuat? Sekarang yang kita tahu malah banyak sekali buku dan teori tentang “Word of Mouth Marketing”. Siapa yang sangka jika hanya dengan gossip, sebuah usaha bisa sangat ramai dan berkembang pesat? Di sinilah kemudian kita lihat adanya kebutuhan akan kemampuan “berhitung plus” yang menjadi tuntutan jaman.

Kemampuan berhitung “plus” muncul karena banyak para pelaku usaha yang menyadari tanggung jawab untuk berhitung. Tidak hanya diatur dengan strategi tahunan saja, tetapi kemampuan ini juga harus benar-benar dimiliki oleh semua jajaran. Jika dulu banyak perusahaan yang masih merahasiakan keadaan keuangan perusahaan terhadap divisi tertentu, sebaliknya sekarang malah semua level di sebuah perusahaan harus tahu dan faman tentang keadaan perusahaan. Bahkan untuk seorang frontliner, dia harus mempunyai sense tentang bagaimana perusahaan bisa mencetak laba. Mereka juga perlu merasakan bagaimana kepuasan pelanggan terhadap produknya, merasakan bagaimana arti pelanggan dan bagaimana memerangi persaingan.

Bisnis yang dulunya hanya kalkulatif dan bisa diramalkan dengan acara hitung-hitungan, tetapi sekarang menjadi upaya yang sangat mengandalkan “manusia”, upaya yang sangat manusiawi, kekuatan networking, sangat memperhatikan kepuasan pelanggan dan tidak hanya bisa dinilai dari materi saja.

Follow Peluang Bisnis | Peluang Usaha | Informasi Bisnis Indonesia on Twitter, become a fan on Facebook. Stay updated via RSS

Leave a Reply

Comments are closed on this post.

Advertisement