December 13 2018
  • 1
, - ° - Humidity: %
Advertisement

Marketing dengan Prinsip Pareto

By admin - Mon Jun 11, 4:50 pm

Marketing dengan prinsip pareto sudah mulai banyak digunakan oleh para pebisnis. Marketing dengan prinsip pareto ditemukan oleh Ekonom asal Itali, Vilfredo Pareto, pada tahun 1906. Ekonom tersebut pada masa itu melakukan penelitian dan menemukan bahwa 80% tanah di Italy dimiliki oleh 20% populasi warga Italy. Kemudian penelitiannya berlanjut pada kacang polong. Dia menemukan bahwa tumbuhan kacang polong di kebun miliknya ada 80% kacang polong didapatkan dari 20% dari tanaman kacang polong.

Marketing dengan prinsip pareto

Sampai sekarang, prinsip Pareto ni sudah berkembang menjadi prinsip dasar atau aturan dasar dalam berbisnis. Banyak sekali analis bisnis yang menggunakan prinsip sederhana ini dalam mengolah data dan mengambil keputusan dan langkah-langkah apa saja yang selanjutnya diambil untuk meningkatkan bisnis. Sejatinya, ada dua cara yang dilakukan untuk mengaplikasikan Prinsip Pareto ini ke bisnis. Pertama, bagi pelaku retail. Mereka mempunyai banyak produk yang dijual di tokonya. Secara mum sebagai retailer, dari Prnisip Pareto, bahwa 20% jenis produk yang dijual menyumbang 80% dari total penjualan yang terjadi. Sedangkan 80% produk sisanya menyumbangkan 20% total penjualan.

Marketing dengan prinsip pareto yang pertama tersebut juga dapat ditingkatkan dengan cara sebagai berikut. Apabila Anda retailer, olah data penjualan Anda, urutkan jenis produk yang terjual paling besar sampai dengan yang paling kecil (bisa berdasarkan kuantitas produk maupun rupiah). Kemudian ambil 20% jenis produk dari teratas. Kemudian bandingkan dengan total penjualannya, apakah sudah 80%. Setelah diketahui jenis produk apa saja yang menempati 20% teratas, Anda sebagai retailer pasti tidak mau kehilangan penjualan. Sehingga Anda harus meningkatkan penjualan produk tersebut dan pastikan jenis produk-produk tersebut selalu ada, jangan sampai out of stock.

Kedua, bagi pelaku usaha yang mempunyai sedikit jenis produk dan mempunyai banyak pelanggan tetap. Biasanya usaha ini bergerak dibidang jasa atau usaha manufaktor yang mempunyai jenis produk sedikit. Urutkan penjualan Anda mulai dari yang tertinggi sampai dengan terbawah terhadap pelanggan-pelanggan tetap Anda (klien atau distributor). Pengurutan tersebut bisa dilakukan berdasarkan dari jumlah transaksi atau dari total besar penjualan Anda. Kemudian dari pola data tersebut, dari 20% pelanggan terasatas Anda, berikan pelayanan yang memuaskan, agar pelanggan Anda tidak berpaling ke competitor. Selain itu dengan level kepuasan yang tinggi, pelanggan bisa melakkan order lebih banyak lagi yang bisa menaikkan penjualan Anda.

Marketing dengan prinsip pareto ini pada prinsipnya bisa digunakan berdasarkan total penjualan, total quantity penjualan, total jumlah transaksi, total margin per produk, dan lain sebagainya. Anda sebagai pelaku usaha seharusnya bisa lebih kreatif lagi dan mempraktikkannya asalkan jangan sampai melenceng dari tujuan dasarnya.

Dengan prinsip ini, maka yang perlu dilakukan adalah Anda memiliki waktu khusus, yaitu sebanyak 20%, untuk melakukan apa yang harus Anda lakukan yang mempengaruhi 80% waktu sisa Anda. Contohnya adalah pembuatan rencana harian. Anda mungkin hanya butuh setengah jam untuk itu tetapi manfaatnya Anda rasakan seharian. Hari Anda pun menjadi lebih efektif. Hal ini juga berlaku untuk rencana mingguan, bulanan, dan tahunan. Contoh lainnya adalah olah raga. Anda hanya melakukannya 15 menit saja sehari, tetapi akibatnya aAnda akan tetap bugar dalam waktu 23 jam 45 menit berikutnya. Contoh lain: banyak materi bacaan yang harus diperlakukan dengan aturan 20/80 ini, misalnya surat kabar. Anda tidak harus membaca semua isi koran hingga kalimat terakhir. Anda cukup baca sekilas (scanning) kepala beritanya. Kalau menarik, Anda baca pokok beritanya. Kalau penting, baru baca keseluruhannya. Kalau tidak perlu, berarti lewat saja.

Follow Peluang Bisnis | Peluang Usaha | Informasi Bisnis Indonesia on Twitter, become a fan on Facebook. Stay updated via RSS