December 21 2014
  • 1
Jakarta, ID - 28 °CPartly Cloudy - Humidity: 79%
Advertisement

Manisnya cokelat “monggo”

By admin - Wed Dec 28, 2:36 pm

Manisnya cokelat “monggo” ini masih tergolong baru di pasar cokelat tanah air. Manisnnya cokelat “Monggo” ini tidak perlu diragukan lagi rasa manisnya yang berbaur sempurnya dengan citarasa pahit cokelat yang sesungguhnya. Di pusat-pusat perbelanjaan di Indonesia sudah mulai bertebaran cokelat ini dengan beragam pilihan rasa yang mampu membuat Anda ingin menobanya lagi dan lagi.

Mungkin masih banyak yang belum mengenal cokelat bermerk 'Monggo'. Namun, kiprah merk coklat rumahan ini dalam industri hilir cokelat ini rupanya sudah tidak perlu diragukan. Awalnya pada tahun 2003, merk dagang ini hanya mengolah sekitar 200 kg biji kakao setengah jadi per bulan untuk dijadikan cokelat khas Monggo yaitu dark chocolate. Namun, pada tahun 2011 ini, industri rumahan ini telah mengolah sekitar 5 ton kakao setengah jadi per bulan. Edward Riando Picasauw yaitu salah seorang pendiri perusahaan coklat ‘Monggo’ ini menyatakan adanya kenaikan konsumsi coklat merknya disebabkan adanya pergeseran selera masyarakat yang tadinya menyukai coklat dengan campuran susu, kini mulai tertarik dengan cita rasa cokelat internasional yang merupakan pure butter cacao dengan sensasi rasa pahit.

Manisnya cokelat “monggo” mematahkan tren konsumen akan cokelat susu karena sekarang mereka lebih mengerti rasa cokelat yang sebenarnya. Coklat Monggo ini adaptasi dari cokelat Belgia, lalu disinkkronkan dengan selera Indonesia, seperti Hazelnut diganti dengan kacang mete. Sang pemilik usaha ini tidak bekerja sendiri, dia bekerja bersama seorang temannya yang berasal dari Belgia, yaitu Thierry Detournay untuk memproduksi cokelat dengan 80 persen karya tangan manusia, hanya 20 persen menggunakan mesin. Sementara bahan bakunya berasal dari Sulawesi yang merupakan pulau penghasil coklat terbesar di Indonesia.

Mesin yang digunakan hanya untuk menghancurkan biji kakao yang keras-keras, selebihnya menggunakan tangan manusia. Coklat asal Kotagede ini mulai dipasarkan di seluruh Jawa dan Bali. Tidak heran, omzet perusahaan ini pun tembus USD 1 juta dalam setahun. Tidak mau berhenti di situ, Edward Riando , atau yang kerap disebut Edo menyampaikan pihaknya berencana untuk Go International. Dengan peluang tersebut, dia mengharapkan produksi dan omzet pun dapat meningkat 2 kali lipat.

Manisnya cokelat “monggo” rencananya akan menyambangi Negara-negara seperti Amerika Serikat pada tahun 2012 mendatang. Namun, Edo menyatakan rencana tersebut masih menunggu izin ekspor dari Direktorat Jenderal Bea Cukai. Diakui bahwa sudah banyak permintaan yang menghubunginya, yaitu dari Swedia, Amerika Serikat, Belanda, Jerman, Greendland. Tapi untuk saat ini memang masih terganjal oleh aspek legalitas yang baru diurus. Nanti setelah dapat ACC dari Bea Cukai, cokelat ini akan segera diekspor. Selain dari bidang perijinan dan masalah permodalan, ada kendala lain yang masih menjadi momok bagi usaha cokelat Indonesia. Salah satunya adalah ketidakmampuan pemerintah Indonesia dalam menentukan harga cokelat dunia. Padahal posisi Indonesia sebagai negara ketiga terbesar penghasil komoditas kakao tersebut sudah sangat kuat di mata dunia.

Akibatnya, pengusaha coklat dalam negeri masih was-was jika sewaktu-waktu harga bahan baku coklat internasional melonjak tajam. Pasalnya, kebanyakan pengusaha kakao akan mengekspor ke luar negeri karena tergiur harga yang tinggi. Hal ini dapat menganggu produksi coklat dalam negeri jika bahan bakunya menghilang di pasar domestik. Indonesia belum bisa memengaruhi harga, karena masih tergantung dolar. Inilah yang diharapkan bisa segera ditangani oleh Pemerintah untuk mengamankan posisi pengusaha dan petani kakao dalam Negeri.

Follow Peluang Bisnis | Peluang Usaha | Informasi Bisnis Indonesia on Twitter, become a fan on Facebook. Stay updated via RSS

Leave a Reply

Comments are closed on this post.

Advertisement