November 18 2018
  • 1
, - ° - Humidity: %
Advertisement

Konsep Franchise Syariah

By admin - Wed May 30, 4:30 pm

Konsep franchise yang menguntungkan seharusnya tidak hanya menguntungkan salah satu pihak tetapi juga kedua belah pihak, yaitu franchisee dan franchisor. Konsep franchise yang berkembang pesat belakangan ini memang terbilang cukup menguntungkan walaupun masih terkesan kapitalis. Konsep yang berkembang sekarang ini lebih cenderung menguntungkan franchisor dan lebih merugikan franchisee. Secara umum, dalam konsep franchise yang berkembang sekarang ini, biasanya franchisor akan mengenakan kepada franchisee beberapa hal yaitu franchise fee dan royalty fee.

Konsep franchise

Franchise fee biasanya dibebankan kepada franchisee untuk jangkan waktu tertentu, biasanya 5 tahun. Sedangkan royalty fee biasanya dihitung dari omzet penjualan. Mengapa hal ini merugikan franchisee? Karena dengan penerapan franchise fee berarti sang franchisor sudah mengambil keuntungan di depan sedangkan usaha belum berjalan. Penghitungan royalty fee dari omzet penjualan juga mencerminkan ketidakadilan. Karena berarti si franchisor tidak menanggung resiko. Karena walaupun usaha tersebut mengalami kerugian, sepanjang ada penjualan maka franchisor akan tetap mendapatkan royalty.

Konsep franchise ini pada awalnya berkembang karena di satu sisi ada pengusaha yang sudah berhasil dalam menjalankan bisnisnya tetapi kekurangan modal untuk mengembangkannya lebih besar lagi. Dan di sisi lain, ada pihak yang mempunyai modal tetapi belum atau tidak memiliki pengalaman atau keahlian dalam berbisnis di bidang tersebut. Di sinilah akhirnya ada dua kepentingan yang bertemu dan bersinergi. Lalu bagaimana dengan system franchise syariah? Apakah ada perbedaan dengan system atau konsep franchise pada umumnya?

Dalam istilah ekonomi Islam, si franchisor yang dikenal sebagai Mudharib berkontribusi dengan pengalaman, brand dan juga system bisnis. Sedangkan franchisee yang di sebut sebagai Shahibul Maal dalam ekonomi Islam berkontribusi dengan modal, baik uang maupun asset. Kemudian kedua belah pihak tersebut bertemu dan berpegang pada prinsip-prinsip yang tidak melanggar syari’ah dan berlandaskan keadilan.

Konsep franchise syari’ah mempunyai beberapa karakteristik utama sebagai berikut, yaitu:

  1. Tidak mengenal adanya franchise fee. Hal ini dikarenakan usaha belum berjalan. Jadi setiap keuntungan akan dinikmati setelah usaha berjalan dan ada keuntungan.
  2. Royalty fee atau lebih tepatnya bagi hasil diambil dari gross profit atau net profit. Bisa dihitung bulanan, 3 bulanan atau sesuai dengan kesepakatan awal.
  3. Usaha tersebut menjadi milik bersama. Proporsi kepemilikan saham dan bagi hasil ditetapkan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak. Hal ini biasanya tergantung pada karakteristik bidang usahanya. Dan kepemilikan usaha ini bisa dibatasi waktu atau bisa juga selamanya, tergantung pada kesepakatan.
  4. Dalam kerjasama ini, franchisee (shahibul maal) bisa terlibat dalam manajemen usaha ataupun tidak.

Selanjutnya, profit juga bisa dinikmati oleh kedua belah pihak setelah usaha tersebut sudah berjalan dan menghasilkan keuntungan. Jika belum menghasilkan profit, maka kedua belah pihak juga tidak akan mendapatkan apapun. Dengan karakteristik tersebut di atas, maka kedua belah pihak (franchisor/ mudharib dan franchisee/ shahibul maal) akan mempunyai tanggung jawab yang sama untuk memajukan usaha tersebut. Tidak seperti yang banyak terjadi sekarang, yang lebih banyak merugikan pihak franchisee. Karena pihak franchisor sudah mengambil profit di depan, sehingga kadang-kadang menjadi kurang peduli kepada keberhasilan usaha sang franchisee. Konsep waralaba Syarai’ah ini intinya adalah pihak franchisor tetap dapat mengemban usahanya dengan modal pihak lain dan orang yang ingin memiliki usaha (franchisee) dapat memulai usahanya tidak dari nol. Dalam ekonomi Islam sendiri, waralaba ini disebut sebagai system mudharabah atau musyarakah.

Follow Peluang Bisnis | Peluang Usaha | Informasi Bisnis Indonesia on Twitter, become a fan on Facebook. Stay updated via RSS