November 13 2018
  • 1
, - ° - Humidity: %
Advertisement

Dampak Krisis Global

By admin - Thu Jan 12, 1:41 pm

Dampak krisis global tampaknya masih terus akan berlanjut di semua penjuru dunia. Dampak krisis global bagi ekonomi Indonesia diperkirakan akan semakin menurun karena ekonomi Indonesia diprediksi akan tetap tumbuh di atas Negara-Negara lain. Karena Indonesia punya keunggulan domestik yang dapat menahan goncangan dari luar. Indonesia akan tetap tumbuh di atas 6 persen, sementara pertumbuhan ekonomi dunia merangkak di bawah 4 persen. Krisis Eropa sangat krusial untuk diselamatkan karena mempengaruhi ekonomi dunia.

Berikut adalah strategi Indonesia untuk menghadapi krisis Eropa yang sudah mulai mempengaruhi perkembangan ekonomi dunia. Seperti yang diketahui bahwa pertumbuhan Indonesia sangat bergantung dari asumsi di luar (global) mengenai pertumbuhan ekonomi dunia. Asumsi untuk pertumbuhan ekonomi global ini sama dengan yang dikeluarkan International Monetary Fund (IMF) pada World Economic Forum, yaitu pertumbuhan ekonomi global itu 4 persen. Angka itu menghasilkan angka pertumbuhan Indonesia kira-kira 6,5-6,7 persen, seperti yang disampaikan pada APBN, sehingga digunakan pemerintah juga 6,7 persen. Meski ekonomi dunia tumbuh 4 persen, Indonesia ternyata masih bisa di bawah 6,7 persen. Tapi kalau memang pemerintah berupaya maksimal dalam kegiatan ekonomi, maka Indonesia bisa tumbuh kira-kira 6,7 persen.

Dampak krisis global juga mengeluarkan asumsi bagi tiap-tiap Negara. Misalnya IMF menurunkan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,7% karena ketidakpastian ekonomi di Eropa, itu hasilnya bukan 6,7 persen pertumbuhan Indonesia, namun 6,2 persen. Secara aturan jika pertumbuhan global dari 4 persen turun ke 3 persen maka kita akan berkurang ke 0,2 persen dari 6,7 persen menjadi 6,5 persen. Nah kalau terjadi lebih buruk lagi prediksi IMF sebesar 3,7 persen itu bisa lebih buruk.

Di Eropa, belum adanya komitmen ekonomi dan politik yang menyatu meski sudah dibicarakan dalam KTT Uni Eropa oleh pimpinan negara mereka. Komitmen yang bisa membawa perekonomian Eropa membaik sehingga muncul kesepakatan yang baru. Pasar sempat positif sesudah disetujui di Uni Eropa, namun kembali lagi nanti ada kekhawatiran di tiap negara akan berhadapan dengan perlemennya. Belum tentu parlemen secara politik menyetujui. Seperti cerita Yunani yang pemimpinnya sudah sepakat di KTT, namun begitu kembali ke negaranya, diminta untuk referendum. Kredibilitas presidennya hancur sehingga pasar bergejolak lagi. Dan sekarang pasar itu masih membaca pelan-pelan, masih wait and see.

Dampak krisis global tentu ada worst case scenario, bahkan PBB memiliki skenario terburuk dunia hanya akan tumbuh 2 persen, sehingga hasil pertumbuhan ekonomi akan berubah lagi. Namun ada optimisme di Indonesia kalau dilihat dampaknya mungkin tak akan seburuk di negara lain. Khususnya seperti yang dilihat di kuartal II kemarin. Meski ada gonjang-ganjing di Eropa dan Amerika, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tinggi. Ekspor yang prediksinya akan turun itu masih tetap naik. Bila kita analisa lebih lanjut, kenaikan terjadi karena perubahan tujuan negara ekspor khususnya China yang pertumbuhan ekonominya masih tinggi. Dan India, meski mereka memiliki problem dengan inflasi, tapi domestik demand-nya masih besar.

Namun pihak Indonesia juga harus tetap waspada karena siapa tahu perekonomian terus memburuk. Itu juga bisa berdampak pada China dan India. Kalau mereka kena maka Indonesia akan juga kena. Yang terus dimonitor adalah finansial market, yang dampaknya cukup besar bagi Negara-Negara lain, termasuk Indonesia. Untuk dampak terhadap pasar keuangan, bisa dilihat di pasar obligasi (bond), saham di pasar modal kemudian dampaknya ke nilai tukar.

Follow Peluang Bisnis | Peluang Usaha | Informasi Bisnis Indonesia on Twitter, become a fan on Facebook. Stay updated via RSS

  • Comments Off on Dampak Krisis Global