August 23 2017
  • 1

Warning: fread(): Length parameter must be greater than 0 in /home/infoduit/public_html/wp-content/themes/peluangbisnis/lib/weather/class.weather.php on line 311

Warning: fopen(): Filename cannot be empty in /home/infoduit/public_html/wp-content/themes/peluangbisnis/lib/weather/class.weather.php on line 298

Warning: fwrite() expects parameter 1 to be resource, boolean given in /home/infoduit/public_html/wp-content/themes/peluangbisnis/lib/weather/class.weather.php on line 299

Warning: fclose() expects parameter 1 to be resource, boolean given in /home/infoduit/public_html/wp-content/themes/peluangbisnis/lib/weather/class.weather.php on line 300
, - ° - Humidity: %
Advertisement

BRI, dikenal dari Desa ke Kota

By admin1 - Tue Dec 27, 3:33 pm

  • Comments Off on BRI, dikenal dari Desa ke Kota
  • 1263 views
  • Email
  • Print

BRI atau Bank Rakyat Indonesia sudah seperti mendarah daging di hati masyarakat Indonesia. BRI pada beberapa tahun yang lalu hanya dikenal sebagai bank di daerah pedesaan tetapi tidak untuk saat ini. Perubahan sudah banyak terjadi di BRI. Bank yang satu ini tak lagi dikenal hanya beroperasi di desa. Kini, warga tak jauh dari rumah ataupun pusat bisnis di kota mudah menemukan BRI. Semua ini dilakukan tanpa melupakan bisnis asalnya, yaitu kredit mikro dan desa. Anda dapat membuktikannya dengan datang langsung ke kantornya dan temukan perbedaan antara BRI versi lama dan versi baru. Maka Anda akan menjumpai pelayanan yang jauh berbeda. Hal ini terjadi karena transformasi di tubuh BRI.

Perubahan itu merupakan bentuk kesadaran bahwa lambat laun produk-produk bank-bank sama, fiturnya juga sudah hampir sama. Untuk itu, pada awal kepemimpinan Dirut BRI, Sofyan Basyir, melihat bagaimana mencoba memanfaatkan dan mengelola BRI yang memiliki 4.200 kantor. Bagaimana bisa memanfaatkan kantor-kantor yang sudah ada di daerah. Akan tetapi, dalam perjalanannya, ternyata ada bank-bank yang merambah ke bisnis BRI, yaitu kredit mikro. Ada empat bank yang intensif masuk ke bisnis itu. Keberadaan BRI yang sudah di desa ternyata masih dikejar juga oleh bank-bank lain. Saat itu, jumlah karyawan sudah 40.000. Ini merupakan potensi yang luar biasa.

BRI kemudian tidak tinggal diam. Para jajarannya memulai dengan transformasi budaya. Mereka menekankan bahwa ini bukan lembaga yang mengelola pegawai negeri sipil, tetapi bank, yang berbicara industri. Oleh karena industri, mereka punya target. Mereka mempunyai cita-cita besar ke depan, angka-angkanya harus jelas. Jika sudah berbicara industri, maka harus diimbangi dengan tuntutan industri.

Transformasi budaya kerja diikuti dengan transformasi bisnis. Hal itu mulai dari sumber daya manusia, teknologi informasi, sarana kerja, hingga produk-produk kami. Untuk itu, lalu disusun perencanaan yang matang, terinci, dan diikuti langkah strategis. Tahun 2005-2006, transformasi itu dimulai. Bank adalah teknologi. Bicara bank, bicara teknologi karena nasabah butuh layanan yang prima. Layanan itu adalah kemudahan akses, kemudahan mendapat informasi, dan mendapat kenyamanan. Pertama, bagaimana meng-online-kan seluruh jaringan BRI dari Sabang sampai Merauke. Pihak BRI kemudian berpikir sumber dana kehidupan bank adalah dari pribadi-pribadi, maka sumber dananya yang utama itu ada di perkotaan.

BRI selama ini memang menguasai pedesaan. Kalau teknologi sudah dipenuhi, maka tidak salah kalau pada akhirnya bisa masuk ke masyarakat kota. Untuk itulah, BRI memperluas jangkauan dari desa sampai ke kota. Realisasinya adalah dulu di Jabodetabek hanya ada 60 kantor, sekarang telah menjadi 700 kantor. Awalnya mereka hanya menyerang 14 kota besar, kini mereka sudah menyerang 50 kota besar. Bersamaan dengan itu, mereka juga mengimbangi dengan teknologi. Mereka membuka BRI di perkantoran, pusat kegiatan bisnis, dan lain-lain. Mereka juga membangun fitur-fitur yang sekarang telah mencapai 570 fitur produk. Kemudian diimbangi dengan pertumbuhan sumber daya manusia untuk dukung kantor dan untuk dukung bisnis kredit mikro. Ada tambahan 45.000 orang dalam lima tahun. Sebagian untuk mendukung kredit usaha rakyat (KUR). KUR pada 2008 awal telah mencapai lima juta debitor KUR dengan kredit Rp 35 triliun atau Rp 7 juta per orang. Keberanian mengambil resiko inilah yang kemudian membuat BRI lebih terkenal, baik di desa maupun di kota.

Follow Peluang Bisnis | Peluang Usaha | Informasi Bisnis Indonesia on Twitter, become a fan on Facebook. Stay updated via RSS

  • Comments Off on BRI, dikenal dari Desa ke Kota

  • Fatal error: Call to undefined function the_ratings() in /home/infoduit/public_html/wp-content/themes/peluangbisnis/lib/hooks.php on line 513